Edukasi / Hormon

Hormon

Somatostatin (GHIH): hormon peptide yang mengerem hormon pertumbuhan

Somatostatin (GHIH): hormon peptide yang mengerem hormon pertumbuhan

Somatostatin adalah hormon peptide yang tugas utamanya menahan pelepasan hormon lain, termasuk hormon pertumbuhan. Karena itu ia juga dikenal sebagai GHIH (growth hormone-inhibiting hormone) atau SRIF. Tubuh membuatnya di otak, pankreas, dan saluran cerna, dan di ketiga tempat itu perannya serupa: mengerem.

Artikel growth hormone secretagogue membahas pedal gas di sumbu hormon pertumbuhan. Artikel ini membahas remnya.

Ditemukan sebagai penghambat hormon pertumbuhan

Pada 1973, tim Roger Guillemin di Salk Institute melaporkan bahwa ekstrak hipotalamus domba mengandung peptide yang menekan pelepasan hormon pertumbuhan. Peptide itu tersusun dari 14 asam amino dan diberi nama somatostatin, gabungan dari somatotropin (nama lain hormon pertumbuhan) dan statin yang berarti menahan. Guillemin kemudian ikut menerima Nobel Kedokteran 1977 atas penelitian hormon hipotalamus.

Belakangan diketahui tubuh membuat dua bentuk aktif dari satu prekursor yang sama: SS-14 dengan 14 asam amino dan SS-28 dengan 28 asam amino. Kalau istilah rantai asam amino masih terasa asing, dasarnya ada di dari asam amino menjadi peptide, sedangkan posisi hormon peptide di antara protein dan hormon lain dijelaskan di beda peptide, protein, dan hormon.

Dibuat di mana, dan apa saja yang ditahannya

Hipotalamus. Neuron di hipotalamus melepas somatostatin ke pembuluh darah kecil yang menuju kelenjar pituitari. Di sana ia menahan pelepasan hormon pertumbuhan, TSH (hormon perangsang tiroid), dan prolaktin.

Pankreas. Sel delta di pulau Langerhans menghasilkan somatostatin yang menahan pelepasan insulin dan glukagon dari sel di sekitarnya, juga sekresi enzim pencernaan pankreas.

Lambung dan usus. Sel D di dinding lambung dan usus halus melepas somatostatin untuk menekan asam lambung, memperlambat pengosongan lambung, dan menahan pelepasan hormon pencernaan lain. Aliran darah ke organ cerna juga ikut berkurang.

Pesan somatostatin ditangkap lima jenis reseptor, SSTR1 sampai SSTR5, yang sebarannya berbeda di tiap jaringan. Itu sebabnya satu hormon bisa punya efek yang begitu beragam.

Kenapa efeknya cuma beberapa menit

Somatostatin alami di dalam darah hanya bertahan sekitar 2 sampai 3 menit sebelum diurai enzim. Untuk sebuah rem, sifat ini masuk akal: sinyal menahan cukup hadir sebentar di tempat yang perlu, lalu hilang supaya denyut hormon pertumbuhan berikutnya tetap bisa terjadi.

Untuk pengembangan obat, umur sependek itu jadi kendala. Peneliti lalu memendekkan dan memodifikasi rantainya. Hasil pertama yang dipakai luas adalah octreotide, peptide 8 asam amino yang disintesis pada 1979 dan disetujui di Amerika Serikat pada 1988. Waktu paruhnya sekitar 1,5 sampai 2 jam setelah suntikan di bawah kulit. Generasi berikutnya antara lain lanreotide dan pasireotide.

Contoh ini sering dipakai untuk menjelaskan kenapa banyak peptide yang dikenal sekarang adalah analog, yaitu versi yang sudah dimodifikasi, bukan salinan persis molekul alaminya.

Somatostatin sebagai obat

Di Indonesia, somatostatin sintetis beredar sebagai obat keras dalam bentuk serbuk injeksi. Pemakaiannya untuk keadaan akut, misalnya membantu mengendalikan perdarahan dari varises kerongkongan, dan diberikan lewat infus. Analognya seperti octreotide dan lanreotide dipakai jangka panjang untuk akromegali, yaitu kelebihan hormon pertumbuhan akibat tumor pituitari, serta untuk gejala tumor neuroendokrin.

Jadi kategorinya berbeda dari peptide yang masih dalam tahap penelitian dan belum ada izin edar sebagai obat. Somatostatin adalah obat resep, dengan efek samping yang tercatat seperti mual, pusing, perut kembung, dan diare, serta risiko batu empedu pada pemakaian jangka panjang. Di sini ia dibahas sebagai bagian dari biologi sumbu hormon pertumbuhan, bukan sebagai produk. Beda status izin dijelaskan di apakah peptide legal di Indonesia, dan gambaran umum soal efek samping ada di efek samping dan keamanan peptide.

Kenapa ini penting untuk memahami secretagogue

Hormon pertumbuhan dilepas dalam denyut karena GHRH dan somatostatin bergantian lebih dominan. Saat kadar somatostatin turun, pituitari lebih siap merespons. Saat naik, pelepasan tertahan.

Secretagogue bekerja di tengah tarik-menarik ini. Hasil akhirnya ikut ditentukan oleh rem bawaan tubuh, umpan balik IGF-1, dan kondisi masing-masing orang. Itu salah satu alasan respons tiap orang berbeda dan tidak ada hasil yang bisa dijamin.

Bicarakan dulu sebelum mulai

Tiap kondisi berbeda, jadi sebaiknya dibicarakan langsung. Ceritakan kebutuhan Anda ke reseller resmi, lalu mereka bantu jelaskan pilihannya.

Peptide yang dibahas

Ada yang mau
ditanyakan?

Ceritakan kondisi dan tujuan Anda ke reseller resmi kami. Mereka bantu carikan langkah yang sesuai.

Lihat reseller resmi
Reseller